Justice League (2017)

justice-league-2017

Setelah sempat mengecewakan di beberapa film terakhir, DC akhirnya bisa sedikit tersenyum setelah kesuksesan Wonder Woman baik dari kritik dan finansial. Jadi wajar Justice League mendapat ekspektasi yang lebih besar dari Batman Vs Superman.

Semua berjalan sesuai rencana DC, JL mendapat sambutan bagus dari para fans bahkan rating di IMDB sempat menyentuh angka hampir sembilan.  Ya, semua tampak baik-baik saja sampai para kritikus film dari media-media ternama mereview film berbudget 300 juta dolar ini. Isi review yang rata-rata negatif itu tentu saja merubah sebuahnya.

Review negatif itu sebenarnya tidak mengejutkan mengingat banyak masalah yang menaungi JL pasca produksinya sampai-sampai membuat Zack Snyder angkat kaki dan kendali diambil alih oleh Josh Whedon yang seperti kita tahu adalah sutradara film Avengers terbitan Marvel – Pesaing DC.

Jadi apakah benar justice league segitu hancurnya, sampai rottentomatoes hanya memberinya rating 41%?

Mengambil setting pasca kematian Superman oleh Doomsday di BVS, JL memulai film dengan investigasi Batman yang sadar akan bahaya yang akan datang pasca kematian Man Of Steel itu. Batman (Ben Affleck) dan Wonder Woman (Gal Gadot) dikejar dengan waktu untuk mengumpulkan team guna menghadapi bahaya dari musuh masa lalu bumi. Steppenwolf yang pernah datang ke untuk menaklukan Bumi kembali datang pasca bumi amburadul setelah kematian superman.  Pada prosesnya Batman dan WW berhasil mendapat bantuan dari Flash (Ezra Miller), Cyborg (Ray Fisher) dan Aquaman (Jason Momoa) untuk menhadapi Steppenwolf dan parademons-nya.


Mengomentari JL dengan membandingkannya dengan Avengers tentu tidak adil walaupun juga tentu susah untuk tidak dilakukan. Avengers memiliki pondasi cerita yang kuat dengan beberapa film solonya yang juga berhasil, Avengers tidak perlu lagi bercerita tentang latar belakang para pahlawannya. Kasus berbeda dihadapi JL, praktis hanya Wonder Woman dan Superman saja yang sudah memiliki film solo, itupun tidak bisa dijadikan pondasi kuat untuk membuat film yang berisi superhero-superhero lain yang masih awam dipenonton.

Hal tersebut menyebabkan mau tidak mau WB menghabiskan separuh film untuk sedikit mengenalkan para jagoannya. Terasa buru-buru dan tidak efektif memang namun itulah cara terbaik untuk mengemas semuanya dalam durasi yang terbatas – durasinya dua jam memang namun tentu kurang untuk menghadirkan latar belakang para jagoannya.

Setelah buru-buru mengenalkan jagoannya dengan perpindahaan scene yang kurang mulus, JL membayar semuanya dengan visual dan aksi yang bagus, tidak luar biasa memang, namun cukup untuk membayar dosanya di sepertiga awal film - tentang pendalaman karakter.

Overall Justice League tetap layak untuk dinikmati jika kita tidak berekspektasi lebih. Di film ini DC maupun WB tidak memaksa JL untuk berlari karena mereka memang sadar tidak memilik pondasi yang terlalu kuat untuk berlari jadi selama DCEU masih belum bisa berlari, berbahagialah kita melihat DCEU belajar berdiri dulu walau dengan kualitas yang masih jauh dari rivalnya.

 

6.6
Lumayan Bagus

Justice League tetap layak untuk dinikmati jika kita tidak berekspektasi lebih. Paling tidak film ini menjadi modal kuat untuk film-film solo para superheronya di tahun-tahun yang akan datang.

0 comments

Leave a Reply